BUGI

Bildung und Gesundheit für Indonesien

BUGI - Bildung und Gesundheit für Indonesien

Kelompok Masyarakat Bawah Terdampak Tuberkulosis Paru

dokter mada gautama

Oleh dr. Mada Gautama Soebowo

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Semarang

#BUGI #Tuberculosis #WorldTuberculosisDay

Rumah tangga miskin menjadi kelompok masyarakat paling beresiko terpapar tuberkulosis (TB) Paru. Kondisi lingkungan rumah yang minim ventilasi udara menjadi salah satu faktor resiko. Rumah-rumah yang berada di Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang memiliki tipe demikian, karena dampak penurunan tanah. Rob dan banjir yang kerap melanda wilayah itu membuat tanah amblas. Sebagian warga memilih mengurug tanah dan membangun rumah di atasnya, sebagian lagi tetap bertahan meski setengah tinggi rumahnya sudah tertelan bumi.

Diperkirakan sejak tahun 1985 rob mulai melanda wilayah pesisir tersebut dan mengakibatkan kerugian yang tak sedikit. Sisa-sisa keganasan air laut pasang ini masih dapat dijumpai di sepanjang permukiman di Kali Semarang. Rob dan banjir di daerah tersebut dikurangi dengan memanfaatkan stasiun pompa Kali Semarang. Hilir Kali Semarang dibendung  lalu airnya dibuang ke laut dengan pompa. Dengan cara ini, intrusi air laut ke pemukiman warga bisa dihindari. Hal ini melegakan sejumlah warga yang menghuni kawasan rawan rob seperti di Kelurahan Bandarharjo.

gambar 1_ bugi artikel

Rumah tampak depan. Akibat peninggian jalan membuat rumah “tenggelam”. (Mada Gautama)

Warga yang bertahan dengan setengah rumah amblasnya tetap masih dapat dijumpai. Salah satunya rumah Kusnadi  (59 tahun)  dan Yuli (51 tahun) warga RT 10/RW 6 Kelurahan Bandarharjo  Semarang  Utara. Tinggi rumah yang pada awalnya 4 meter hanya tersisa 1 meter akibat tanah yang ambles secara berturut-turut lebih dari 10 tahun. Tanah ambles ini dibarengi dengan rob yang merendam rumahnya yang berjarak sekitar lima meter dari Kali Semarang. Di saat terik matahari menyengat, dia berada di luar rumahnya untuk mencari udara segar karena kondisi di dalam rumah sangat panas dan pengap. Atap dan  lantai rumah hanya berjarak kurang lebih 1 meter. Dia mulai masuk kedalam rumah saat malam hari untuk beristirahat. Kondisi rumah seperti ini  mencerminkan besarnya potensi TB Paru bagi kedua orang tersebut. Di dalam rumah sederhana itu terdapat sebuah tempat tidur dan perkakas dapur. Letaknya sekilas seperti di lantai dua, karena mendekati atap. Tetapi dilihat dari luar rumah itu telah ambles dengan menyisakan ruang di dalam rumah sekitar 1 meter dengan atap yang terbuat dari asbes. Pengurugan telah dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pada tahun 2000, 2005, dan 2010, tetapi laju penurunan tanah tetap lebih cepat dari upaya pencegahannya. Dia bertahan di rumah itu hanya dengan istrinya. Anak-anaknya telah bekerja dan menetap di luar kawasan rob itu.

gambar 2_ bugi artikel

Suasana di dalam rumah. Semakin lama lantai rumah dinaikkan sehingga hampir menyentuh atap. (Mada Gautama)

***

Dua bocah bernama Aulia Kiranasari (8 tahun) dan Vidho Putra Maulana (4 tahun) dapat dikatakan representasi pengidap TB Paru dengan latar belakang ekonomi rendah. Ana Werdaningsih (32 tahun) mengasuh seorang diri kedua buah hatinya ini, setelah suaminya, seorang kuli bangunan, meninggal  pada Desember 2014.

Ana dan dua anaknya tinggal di rumah orang tuanya di RT 5/RW 25, Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Rumah itu dihuni oleh tiga keluarga, yakni orang tua Ana, saudara Ana dan keluarga Ana sendiri.

Riwayat TB Paru pada kedua anaknya berawal dari mertua Ana di Pati. Saat itu, kedua anaknya tinggal bersama bapaknya. Sementara Ana tinggal di Semarang. Ana dan suaminya saat itu hidup terpisah dan bekerja masing-masing sesuai dengan keahlian. Mereka bertemu sebulan sekali untuk melepas rindu.

Mertua Ana diketahui memiliki riwayat batuk, tetapi sembuh setelah minum obat generik. Pada saat kedua anaknya pindah ke Semarang pada Januari 2015, Ana mulai mendapati kejanggalan. Gejala TB Paru mulai muncul dari batuk-batuk yang tak kunjung sembuh. Langkah pertama yang ditempuh adalah pergi ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) terdekat. Setelah diterapi dan batuknya tidak kunjung sembuh, mereka diminta untuk datang ke Balai Kesehatan Paru Masyarakat Semarang di Jalan K.H. Ahmad Dahlan, sekitar 30 menit perjalanan dari rumahnya. Setelah menjalani tes di balai tersebut, kedua anak ternyata didiagnosa TB Paru.

Dua bulan pertama program penyembuhan TB Paru gagal dilalui. Bulan Juni-Juli seharusnya obat diminum tanpa putus, tetapi obat bulan Juli tak diambil. Obat baru diambil awal bulan Agustus. Kedua anaknya kembali menjalani pengobatan per tanggal 8 Agustus 2015.

Ana bekerja secara serabutan sebagai pembantu rumah tangga pada pukul 06:00 sampai pukul 12:00, lalu menjadi pelayan rumah makan padang pada pukul 13:00 sampai pukul 22:00. Dari dua tempat itu, dia memperoleh pendapatan bulanan sebesar Rp 900.000. Posisinya sebagai seorang single mother membuat TB Paru yang dihadapi anak-anaknya bertambah berat. Waktu bermain dengan anak-anak terampas oleh kondisi keluarga Ana yang menuntut untuk bekerja keras. Kegagalan dalam program dua bulan pertama bisa saja dikarenakan ketiadaan waktu bagi Ana untuk mengambil obat.

***

Kedua cerita di atas merupakan gambaran kasus TB Paru yang dijumpai di Kota Semarang, khususnya di Kecamatan Semarang Utara. Kasus  TB di Kota Semarang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Kasus tertinggi tahun 2014 adalah di Kecamatan Semarang Utara, yang kepadatan penduduknya tinggi serta selalu terkena rob dan banjir. Berturut-turut jumlah keseluruhan penderita TB di Kota Semarang 5 tahun terakhir  dari tahun 2010 – 2014 adalah 2.447 jiwa, 2.771 jiwa, 2.750 jiwa, 3.054 jiwa, dan 3.265 jiwa.

Sedangkan prosentase keberhasilan pengobatan TB Paru dari tahun 2009-2013 adalah: 86%, 85%, 80%, 71% dan 83%. Hal ini disebabkan karena masih banyaknya pasien TB yang tidak meneruskan pengobatan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan, terutama untuk penderita TB Paru yang diobati di Rumah Sakit, karena Rumah Sakit tidak dapat melakukan pelacakan penderita mangkir dan tidak berkoordinasi dengan Puskesmas setempat.

tabel dinkes semarang_TB Paru

Angka Keberhasilan Pengobatan Pasien TB Paru BTA (+) di Kota Semarang Tahun 2009-2013 (Dinas Kesehatan Semarang)

Penanggulangan TB Paru merupakan program nasional yang harus dilaksanakan di seluruh Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) termasuk Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik-Klinik Kesehatan dan juga Dokter Praktek Swasta. Directly Observed Treatment, Short-Course (DOTS) merupakan strategi penanggulangan TB (inter)nasional yang dilaksanakan melalui pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung oeh petugas medis.

Implementasi strategi DOTS diantaranya adalah adanya pojok DOTS di setiap Fasyankes yang merupakan tempat untuk konsultasi pasien TB Paru. Hal ini diadakan untuk mengelola dan mengontrol terapi pengidap TB Paru. Dibutuhkan kedisplinan dalam penerapan semua standart prosedur operasional yang ditetapkan, disamping itu perlu adanya koordinasi antar unit pelayanan dalam bentuk jejaring serta penerapan standart diagnosa dan terapi yang benar dan dukungan yang kuat dari jajaran pimpinan Fasyankes berupa komitmen dalam pengelolaan penanggulangan TB Paru.

Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan penderita TB, prioritas diberikan kepada pasien TB Paru tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB Paru dan dengan demikian diharapkan  insidens TB Paru di masyarakat menurun. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB Paru.

Sejalan dengan program nasional penanggulangan TB Paru, Dinas Kesehatan Kota Semarang yang tergabung dalam Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) bertanggung jawab untuk meningkatan derajat kesehatan masyarakat Kota Semarang. Konkritnya dalam berkontribusi mewujudkan pelaksanaan strategi DOTS, penyediaan logistik Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan non-OAT, melakukan pembinaan tenaga kesehatan dalam bentuk pelatihan bersertifikat, seminar, simposium dan program keakraban dengan mendatangkan tenaga ahli. Disamping itu, Dinas Kesehatan Semarang juga menyelenggarakan monitoring dan evaluasi (monev) pencagahan dan penaggulangan TB (P2TB) bagi pengelola program TB Paru dan melakukan pencatatan dan pelaporan sebagai bentuk pertanggung jawab kepada masyarakat atas keberhasilan program yang dilaksanakan. Peran serta sektor swasta, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), juga sangat diperlukan di dalam upaya penanggulangan TB Paru sehingga dapat berhasil dengan baik.

Universal Health Coverage Campaign for Indonesia

wiss_abend_bugi (2)

On Friday, 4th of December 2015, BUGI – Bildung und Gesundheit für Indonesien e.V has been organized a symposium in Hannover, Germany, namely, “Wissenschaftlicher Abend: Ausbau des Gesundheits-systems in Indonesien am Beispiel der Herzkreislaufrekrankung“.

The main topic in this occasion was the comparison between the health system in Indonesia and in Germany, with a focus on health coverage system in both countries. There is two speakers in this symposium who are expert on the issue of health system, there are Alexander Widjaja and Prof. Stephan Immenschuh.

Our first speaker is Alexander Widjaja, a cardiologist from Indonesia. He presented his experience on examining his patients in Germany and made a comparison to those practice s in Indonesia. He chose one of the cases in Indonesia: installation of stent for people with cardiovascular disorder. A stent in Indonesia costs twice higher then it cost in Germany. This can be a case, because the hospital does not make or maybe can not reach the agreement with the distributors to reduce the cost of this stent. The failure of the agreement led to the burden to the patients. Therefore, the patients ought to pay higher payment.

Moreover, there is no establishment on the health coverage in Indonesia, which is distressing for the poor and marginalized people. That was an issue according to material cost. The next issue was the lack of physician in Indonesia. Surprisingly, there are only 167,687 physicians in Indonesia (26,896 Specialist including 5,612 specialist in Jakarta and 3,902 specialist in East Java) for 250 million resident (source: Indonesia Medical Council, 2015). This number is very irrational when we compare it to Germany. Germany has about 365,200 physicians for 81.2 million residents. In the discussion section, we discussed about the initiative of BUGI to established mobile clinic as a model to strengthen the distribution of health facility for those, who need it the most.

Our second speaker, Prof. Stephan Immenschuh (Internist and researcher in transfusion medicine at the Hannover Medical School), presented a high-end therapy and its challenges in Indonesia, such as cardiovascular problem. Cardiovascular disease can damage several organ functions. Nowadays, there is a choice to undergo organ transplantation. This is a model of therapy, which has a long list of preliminary condition. He presumes, this kind of therapy is a tough challenges or hardly to establish in Indonesia. Some ethic issues according to social-religion situation in Indonesia might be one of the greatest obstacles. Moreover, the technologies to support organ transplantation are not yet available in Indonesia. It might bring a new problem, instead of solving problem.

There are a lot of fundamental problems in Indonesia, which has to be solved first, when it comes to universal health coverage. Mobile clinic from BUGI is a good starting point to aim a good distribution of healthcare in Indonesia. (R.A.K.S)

 

THE ECONOMISTS’ DECLARATION ON UNIVERSAL HEALTH COVERAGE

Larry Summers and The Rockefeller Foundation have convened 267 economists to call on policymakers to prioritize UHC as an essential pillar of economic development. The signatories represent 44 countries and include Thomas Piketty, Linah Mohohlo, Joseph Stiglitz, and Paul Collier, and many other leading economic thinkers. The argument in their Economists’ Declaration on Universal Health Coverage is simple: UHC makes economic sense. They declare that all countries have the opportunity to achieve universal health coverage and should prioritize reforms and investments toward it. To read the Declaration, please click here.

The Declaration has been published in The Lancet – the full text is available here, and the list of signatories can be found here.

We are grateful for beeing a partner in this global coalition for universal health coverage.

UHC_SDG

#HealthForAll #UNGA #SDGs