Diabetes Mellitus Ditinjau dari Segi Klinis, Nutrisi, dan Ekonomis

yuda_budhi_made ratih widiyanti

[Ka-Ki] I Putu Widhi Yuda Yadnya, Dr. Budhi Setiawan, dan Made Ratih Widiyanti

 

Kajian Klinis Diabetes Mellitus

Oleh I Putu Widhi Yuda Yadnya

Co-ass Fakultas kedokteran Justus Liebig Universität Giessen

Apa Sajakah Jenis-jenis Diabetes?
Diabetes Mellitus (DM) terdiri atas dua jenis utama, yaitu DM tipe 1 dan tipe 2. Jenis DM yang paling umum terjadi adalah DM tipe 2.
DM tipe 1 adalah gangguan metabolik yang disebabkan karena rusaknya fungsi pankreas. Kerusakan ini disebabkan karena antibodi penderita (autoantibodi) menghancurkan sel-sel penghasilkan insulin di pankreas, sehingga produksi insulin terganggu atau bahkan tidak ada insulin yang dapat diproduksi. Penderita DM tipe 1 membutuhkan suntikan insulin seumur hidup untuk mengontrol gula darah mereka. Jenis diabetes yang lainnya adalah diabetes gestasional yang disebabkan tingginya kadar gula darah atau hiperglikemia yang ditemukan pada saat kehamilan.
DM tipe 2 adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi akibat penurunan produksi insulin dalam tubuh, sehingga fungsinya tidak maksimal atau tubuh mulai menjadi kurang peka terhadap insulin. Proses ini dikenal dengan istilah resistansi insulin.

Jenis ini biasanya menyerang orang-orang berusia di atas 40 tahun, tetapi usia pengidapnya akhir-akhir ini cenderung semakin muda [1].
Hiperglikemia dapat diakibatkan oleh tingginya asupan energi berlebih secara terus menerus, resistensi reseptor terhadap insulin,dan pada tahap lanjut disertai dengan berkurangnya sekresi insulin karena adanya gangguan fungsi sel beta di pankreas. Bagi sebagian masyarakat, DM tipe 2 sudah menjadi penyakit yang semakin sering dijumpai di tengah masyarakat dengan gaya hidup modern.

Apa Penyebab dan Faktor Resiko untuk Diabetes Tipe 2? Continue reading Diabetes Mellitus Ditinjau dari Segi Klinis, Nutrisi, dan Ekonomis

Kelompok Masyarakat Bawah Terdampak Tuberkulosis Paru

dokter mada gautama

Oleh dr. Mada Gautama Soebowo

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Semarang

#BUGI #Tuberculosis #WorldTuberculosisDay

Rumah tangga miskin menjadi kelompok masyarakat paling beresiko terpapar tuberkulosis (TB) Paru. Kondisi lingkungan rumah yang minim ventilasi udara menjadi salah satu faktor resiko. Rumah-rumah yang berada di Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang memiliki tipe demikian, karena dampak penurunan tanah. Rob dan banjir yang kerap melanda wilayah itu membuat tanah amblas. Sebagian warga memilih mengurug tanah dan membangun rumah di atasnya, sebagian lagi tetap bertahan meski setengah tinggi rumahnya sudah tertelan bumi. Continue reading Kelompok Masyarakat Bawah Terdampak Tuberkulosis Paru

Pentingnya Profesionalitas Terhadap Isu Gender dan Seksualitas di Indonesia

imageedit_2_9759645413

Oleh Jannah Maryam Ramadhani, S.Psi

Penulis buku „Menikah“, saat ini menempuh program Master Psikologi Sosial di Universitas Indonesia

#BUGI #PsikologiKesehatan

Kita tentu pernah tau kalimat pengharapan yang berbunyi, “Di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat – ein gesunder Geist in einem gesunden Körper”. Setiap manusia berlomba-lomba untuk mencapainya. Maka tidak heran jika semakin banyak pusat-pusat kebugaran didirikan baik itu dalam bentuk fitness atau gym center, studio yoga, zumba, bahkan Muay Thai. Selain itu, dengan berkembangnya teknologi sosial media sekarang ini seperti facebook dan twitter membuat banyak orang lebih gampang mengakses berbagai informasi seputar kesehatan tentang gizi makanan, diet, dan mencegah berbagai penyakit. Hal yang menggembirakan ini sejalan dengan program-program pemerintah Indonesia yang terus gencar berusaha memberi peluang terhadap akses kesehatan dan pendidikan terhadap warga negaranya melalui pengadaan rumah sakit, puskesmas, layanan BPJS, dan beasiswa pendidikan. Meskipun tidak bisa dipungkiri dari sekitar 200 juta lebih penduduk Indonesia yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Maret 2014 ada sekitar 28,28 juta orang masih dikategorikan penduduk miskin. Tolok ukur yang dilakukan BPS untuk menjangkau kriteria miskin itu sendiri didasari oleh ketidakmampuan dari sisi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan. Seseorang dikatakan miskin bila rata-rata pengeluaran perkapita perbulan lebih kecil dari nilai garis kemiskinan (GK).

Dengan beragamnya persoalan yang harus ditangani oleh Pemerintah Indonesia terhadap 200 juta lebih kepala, dimana dalam setiap kepala ada jutaan kemauan, jutaan gagasan, jutaan penyakit, dan ada jutaan kelamin, tentu sudah dipastikan ada yang menjadi prioritas utama yang harus diselesaikan. Sebagai penulis yang erat berkegiatan dalam isu-isu keragaman gender dan seksualitas, saya hendak mengetengahkan bahwa kita masih jauh tertinggal dengan negara-negara maju dalam menyikapi keragaman gender dan seksualitas disamping persoalan ekonomi dan perpolitikan yang kian carut-marut dengan isu-isu korupsinya. Karena ketika kita membicarakan tubuh yang kuat dan jiwa yang sehat ada pertimbangan psikologis dan mental yang erat kaitannya terhadap gender dan seksualitas individu. Continue reading Pentingnya Profesionalitas Terhadap Isu Gender dan Seksualitas di Indonesia